9 Perubahan Pada Badan Insan Kalau Hidup Di Luar Angkasa

Umat insan terobsesi untuk tinggal di luar angkasa, baik itu pindah ke Bulan, ke Mars, atau planet lainnya yang punya unsur-unsur penting menyerupai di Bumi.

Atas dasar itu, penelitian pun mulai dilakukan untuk melihat efek dari tinggal di luar angkasa dalam waktu lama, mengingat keadaan di Bumi dan di luar angkasa sangatlah berbeda. Contohnya saja, gravitasi di luar angkasa lebih lemah daripada di Bumi dan kemungkinan terkena radiasi lebih besar ketika berada di luar angkasa.

Berikut ialah sembilan perubahan yang akan terjadi pada tubuh insan bila tinggal dalam waktu usang di luar angkasa, sebagaimana dikutip dari Business Insider.

1. Darah dan Cairan Tubuh Tidak Mengalir

Gravitasi membantu darah dan cairan dalam tubuh mengalir dari kepala sampai ke kaki. Akibat tidak adanya gravitasi, darah pun menumpuk di dalam kepala dan sulit untuk diedarkan sampai ke kaki. Menurut NASA, ketika Scott Kelly, salah satu astronaut NASA berada di luar angkasa, kepalanya menyimpan 2 liter cairan tubuh.



2. Wajah akan terlihat lebih gemuk

Wajah astronaut sering kali terlihat lebih gemuk menyerupai bengkak. Hal ini dikarenakan cairan tubuh dan darah tidak sanggup diedarkan dengan baik dan menumpuk di kepala, sehingga wajah pun terlihat bengkak.

3. Pandangan mata menjadi lebih buram

Sama menyerupai dua hal di atas, cairan tubuh yang tidak mengalir ke kaki mengakibatkan mata menjadi lebih buram. Cairan tubuh yang berkumpul sanggup menjepit saraf mata dan mengakibatkan pandangan jadi kabur.

Karena itu, NASA sedang mencari cara untuk mencegah hal ini. Sebab, penumpukan cairan tubuh dan darah di kepala dikhawatirkan sanggup mengakibatkan dilema serius menyerupai kebutaan.

4. Berkurangnya kepadatan tulang

Tanpa olahraga yang cukup, astronaut sanggup kehilangan 12 persen kepadatan tulang setiap tahunnya, sama menyerupai wanita yang mengalami menopause. Tanpa gaya gravitasi, tubuh bekerja jauh lebih sedikit, sehingga terjadi kerusakan otot dan hilangnya kepadatan tulang. Karena itu, para astronaut harus rajin berolahraga dengan mesin khusus yang ada di stasiun luar angkasa.

5. Massa otot akan berkurang

Otot menjadi tidak mempunyai kegunaan dalam kondisi tanpa gravitasi. Karena itu, terjadilah atropi atau penyusutan jaringan otot. Sama menyerupai tulang, penyusutan otot pun sanggup dikurangi dengan melaksanakan olahraga.


6. Tubuh menjadi lebih tinggi

Tidak adanya gravitasi menciptakan pemfokusan pada tulang-tulang belakang menjadi berkurang, sehingga tubuh pun meregang dan menambah tinggi tubuh sampai 3 persen. Setelah berada di luar angkasa, tinggi tubuh astronaut Scott Kelly naik sampai 5 centimeter, namun kembali normal sehabis berada di Bumi.

7. Lebih gampang mengantuk

Astronaut biasanya hanya tidur sekitar enam jam setiap harinya alasannya tidur di luar angkasa itu terasa asing bagi mereka. Oleh alasannya itu, mereka jadi kurang tidur dan rasa kantuk pun akan lebih gampang tiba menyerang mereka.


8. Berisiko tinggi terkena kanker

Di luar angkasa tidak ada atmosfer yang melindungi kita dari radiasi menyerupai di Bumi. Karena itu, kemungkinan terkena radiasi pun lebih besar. NASA membatasi paparan radiasi pada astronaut laki-laki hanya sebesar 3.250 milisievert dan astronaut wanita 2.500 milisievert. Besaran 3.250 milisievert itu setara dengan radiasi 400 CT Scan perut.

9. Kode genetik yang berubah

Baru-baru ini dilakukan studi pada astronaut Scott Kelly yang pergi ke luar angkasa dan kembarannya yang tetap berada di Bumi. Hasilnya menunjukkan, sehabis setahun berada di luar angkasa, gen pada tubuh Scott Kelly berubah sebesar tujuh persen dan membuatnya berbeda dari saudara kembarnya.

Gen yang berubah ini belum kembali secara normal meski Scott Kelly telah kembali ke Bumi. Entah perubahan gen ini akan bersifat permanen atau butuh waktu yang lebih usang lagi untuk kembali normal, para peneliti masih terus mengamati dan menyelidikinya.

Sumber : Kumparan.com