Begini Nasib Kepsek Smp Di Kalbar, Saat Menyebut Tragedi Teror Surabaya Yaitu Rekayasa


Begini Nasib Kepsek SMP Di Kalbar, Ketika Menyebut Insiden Teror Surabaya Adalah Rekayasa

Viaberita.com, Pontianak - Perempuan berinisial FSA yang merupakan Kepala SMP (SMP) di Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat (Kalbar) resmi ditetapkan sebagai tersangka usai menyebut bahwa teror bom di Surabaya hanya rekayasa.

"Selama 9 jam ia diperiksa oleh tim Ditreskrimsus. Akhirnya, statusnya kita tingkatkan menjadi tersangka dan sudah kita tahan," ujar Kabid Humas Polda Kalbar, Komisaris Besar Pol Nanang Purnomo kepada sejumlah wartawan.

Tim Inafis Olah TKP Bom Gereja Katolik Indonesia Surabaya
Warga orisinil Pontianak Barat itu sebelumnya diamankan Reskrim Polres Kayong Utara di kosannya, Jalan Sungai Mengkuang, Desa Pangkalan Buton, Sukadana, Kayong Utara. Pengamanan ini dilakukan sehabis komentarnya dikecam netizen dan viral di media sosial.

Perempuan 37 tahun itu berkomentar di Facebook dengan menyebut bahwa rentetan agresi teror bom di Surabaya, Jawa Timur hanya pengalihan isu oleh pemerintah dan Polri. Komentar itu ditulisnya pada Minggu 13 Mei 2018 dengan bahasa yang nyinyir.

Bahkan dalam komentar itu, FSA menyebut bahwa teror bom tersebut hanya rekayasa yang sengaja dibentuk oleh yang ia sebut 'bong' untuk merusak gambaran salah satu agama dan sengaja diciptakan untuk mengalihkan isu 2019 ganti presiden yang tengah viral ketika ini.

"Sekali mendayung, 2-3 pulau terlampaui. Sekali ngebom: 1. Nama Islam dibentuk tercoreng, 2. Dana triliyunan agenda anti teror cair, 3. Isu 2019 ganti presiden tenggelam. Sadis lu, bong…rakyat sendiri lu hantam juga. Dosa besar lu..!!!,” ditulis FSA.

Nanang melanjutkan, dalam investigasi FSA, ada dua hal yang didalami. Yakni unsur SARA dalam postingan dan ujaran kebencian. "Dia dikenakan pasal berlapis, yakni UU ITE dan Tindak Pidana," kata Nanang.

Bangkai-Bangkai Sepeda Motor di Lokasi Ledakan Gereja Pantekosta Pusat Surabaya
Pasal yang akan disangkakan kepada FSA yakni Pasal 45A Ayat 2 jo Pasal 28 ayat 2 UU Nomor 19 Tahun 2016 perihal Perubahan Atas UU Nomor 11 Tahun 2008 perihal Informasi dan Transaksi Elektronik dan UU Nomor 1 Tahun 1946 perihal Peraturan Hukum Pidana.

Bercermin dari kasus ini, Kapolda Kalbar melalui Kabid Humas Nanang Purnomo mengimbau masyarakat supaya sanggup bijak memakai media sosial, sehingga tragedi serupa tidak terjadi kembali.

"Sudah dikasih tahu aktivitas media umum ini harus berhati-hati dalam men-share. Kita harus berpikir dahulu sehingga tidak menjadi ancaman bagi diri kita dan orang lain," imbaunya.

Sumber : Okezone.com

Komentar