Dinamika Politik Malaysia: Implikasi Ekonomi-Politik Di Indonesia

Dinamika Politik Malaysia: Implikasi Ekonomi-Politik di Indonesia

“Ini fenomena menarik, kenaikan Mahathir Mohamad sebagai Perdana Menteri. Walaupun usianya 92 tahun, tapi banyak pelajaran yang dapat kita petik,” ungkap Mukhaer Pakkanna, selaku Ketua STIE Ahmad Dahlan Jakarta (STIEAD) ketika dimintai keterangan selepas acar Dialog Ekonomi Politik dengan tema “Dinamika Politik Malaysia: Implikasi Ekonomi-Politik di Indonesia” pada Rabu pekan kemudian (16/05/2018) di Ruang Syahrir Nurut, STIEAD.

Ia yang juga menjadi pembicara dalama program tersebut menjelaskan ada beberapa hal yang menarik. Pertama, terjadinya status quo pada rezim UMNO (red: United Malays National Organisation) yang mengakibatkan lambatnya proses regenerasi kepemimpinan. “rezim UMNO ini kan sudah usang berkuasa, sudah puluhan tahun, dan ini menjadikan terjadinya status quo, sehingga regenerasi di UMNO agak lambat,” ungkapnya.

Kedua, lanjut Mukhaer Pakkanna, pelajaran yang dapat kita ambil ialah soal korupsi. “Perdana Menteri sebelumnya itu diduga korupsi yang sangat luar biasa. Malah menciptakan beberapa perusahaan mancanegara patungan untuk menyimpan dana di negara-negara yang terindikasi sebagai nirwana pajak,” jelasnya.

Ketiga, nepotisme yang terjadi di masa Perdana Menteri sebelumnya, hingga anak dan istrinya terlibat dalam proses ekonomi dan politik.

Terakhir, Mukhaer Pakkanna yang juga selaku Ketua Asosiasi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (AFEB) Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) dan Sekretaris Majelis Ekonomi dan Kewirausahaan PP Muhammadiyah menyebutkan adanya faktor ekonomi dalam proses pemilu di Malaysia mengingat perkembangan ekonomi Malaysia yang mengalami penurunan dan inflasi yang merangkak naik.

“Harga semakin naik, pengangguran semakin naik, PHK industri otomotif yang ada di Malaysia juga turun. Tapi di sisi lain, ketika PHK itu mulai merangkak naik, inflasi naik, justru tenaga kerja ajaib terutama tenaga kerja China itu membanjir ke Malaysia. Jadi, ada banyak faktor-faktor sehingga terjadi proses pergantian kepemimpinan di Malaysia. Kaprikornus ada faktor politik maupun faktor ekonomi,” tutupnya.

Sejalan dengan itu, Sudarnoto Abdul Hakim selaku Pakar Politik Asia Tenggara yang juga menjadi pembicara dalam program tersebut mengatakan, “Ini menarik kita memperlihatkan perhatian terhadap dinamika politik mutakhir yang terjadi di Malaysia dan daya pikatnya memang luar biasa. Bayangkan, UMNO partai yang berkuasa sekian puluh tahun, roboh secara tepat dalam pemilu kemarin. Dan yang menarik lagi, tokoh yang menggerakkan masyarakat bahwa UMNO harus dikalahkan ialah salah satunya Mahathir Muhammad, mantan Perdana Menteri Malaysia yang berkuasa selama 25 tahun dan pernah menjadi Presiden UMNO. Tapi di tangan Mahathir Muhammad jugalah kemudian UMNO roboh secara sempurna,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Sudarnoto Abdul Hakim memberikan bahwa faktor-faktor lain menyerupai kasus-kasus korupsi yang melanda Najib Razak, kemudian pajak yang sangat tinggi, ini juga menjadi faktor penting sehingga popularitas Najib Razak merosot.

Komentar