Dosen Usu Pingsan Sesudah Di Ekspose Polisi Alasannya Hina Korban Bom Surabaya


Direktorat Krimsus Subdit Cybercrime Polda Sumatera Utara mengamankan oknum Dosen Ilmu Perpustakaan di Universitas Sumatera Utara, berinisial HDL, alasannya ialah diduga melaksanakan tindak pidana ujaran kebencian.

"Pelaku tersebut ditangkap petugas kepolisian di rumahnya, di Jalan Melinjo II Kompleks Johor Permai, Medan Johor, Kota Medan, Sabtu (19/5)," kata Kabid Humas Polda Sumut Ajun Komisaris Tatan Dirsan Atmaja, dalam pemaparannya di Mapolda, Minggu (20/5/2018).

Oknum dosen HDL dibawa ke Polda Sumut, alasannya ialah salah satu unggahan di akun facebooknya viral, sampai mengundang perdebatan hangat warganet.

Saat polisi rilis kasus di mapolda, HDL yang juga turut dipamerkan ke awak media sempat pingsan.

"Saat itu, sesudah tiga serangan bom bunuh diri di daerah ibadah di Surabaya, Minggu (13/5). HDL mengunggah sebuah goresan pena yang menyebutkan jikalau tiga bom gereja di Surabaya hanyalah pengalihan isu, skenario pengalihan sempurna, dan #2019 Ganti Presiden," ujaran Tatan menyerupai diberitakan Antara.

Ia menyebutkan, sesudah unggahan itu viral, HDL yang juga mempunyai pendidikan terakhir S-2, eksklusif menutup akun facebooknya.

Namun, unggahan tersebut sudah terlanjur dipotret warganet dan dibagikan ke media-media daring.

"Motif dan tujuan pemilik akun Facebook HDL yang dimilikinya itu, alasannya ialah terbawa suasana dan emosi. Di dalam media umum Facebook dengan maraknya tagar #2019 Ganti Presiden," ucapnya.

Bahkan, kepada penyidik, HDL mengaku merasa kecewa dengan pemerintah ketika ini, semua kebutuhan mengalami kenaikan dan hal itu, tidak sesuai kesepakatan pada ketika kampanye 2014.

Pelaku mengakui menulis status tersebut tanggal 12 Mei dan 13 Mei 2018 di rumahnya.

"Karena telah meresahkan masyarakat, personel cybercrime Polda Sumut yang melaporkan sendiri akun tersebut, sehingga ujaran kebencian yang dilakukan pelaku sanggup diusut," kata mantan Wakapolrestabes Medan itu.

Tatan menjelaskan, perempuan kelahiran tahun 1972 itu, sekarang berada di Mapolda Sumut untuk dilakukan penyelidikan dan mempertanggung jawabkan perbuatannya.

Petugas juga telah menilik saksi, yakni Perdana Putera Darmayana (anak kandung dari HL) dan Brigadir Ruddy Irawan.

"Pelaku HDL, melanggar Pasal 28 ayat 2 jo Pasal 45A ayat 2 Undang-undang Nomor 19 Tahun 2016 dan Perubahan atas Undang-undang Nomor 11 Tahun 2008 ihwal ITE," kata Kabid Humas Polda Sumut.

Sumber : Suara.com